myluuvystory
Male
jakarta

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, December 12, 2006
Waktu, demikian apa adanya...

"Waktu, demikian apa adanya....." 

Waktu tak kan pernah berhenti dan tak kan pernah kembali
ketika sang waktu berhenti, kau sendiri pun akan berhenti
demikian seisi dunia...

sang waktu terus berjalan untuk mengingatkan kita agar tetap waspada
dan tidak menyepelekannya
hanya manusialah yang kerap kali menyepelekan waktu

sementara waktu tetap setia dengan dirinya, apa adanya..

                                                   Jakarta, 8 Februari 2006



Posted at 04:47 pm by myluuvystory
Make a comment  

Monday, December 04, 2006
To: Sekar.....

To: Sekar

Karena memang kita tidak pernah tahu kemana angin membawa....

dan angin tak bertujuan.....

 tetapi angin bisa membuat kita belajar banyak hal....

sementara hati hanya memiliki satu harapan yaitu kedamaian....

                                             Jakarta, 24 Agustus 2006


Posted at 02:22 pm by myluuvystory
Make a comment  

Wednesday, May 03, 2006
Sang Kaki Mengelilingi Hari (3)

"Sang Kaki Mengelilingi Hari"

(sebuah petualangan dan pengalaman yang terberi)

Bali, 1-8 Januari 2006

Oleh: Kornelius K Irwanto, M.Psi.

 

Chapter 3:

 

 

Day 2: Tuesday, January 3, 2006

            Kembali rasa dingin menusuk ke tulang. Memang benar adanya bahwa pagi itu hujan mengguyur lebat kawasan bumi tercinta ini. Sang kaki tak kuasa dan tak berdaya. Dirinya hanya diam termangu dalam kesunyian dan terkurung di dalam kamar. Tuhan dan alam yang berkuasa. Tanpa bisa meng-kabulkan keinginan hatinya untuk menghitung jejak hari di bumi kembali. Dirinya malas beranjak, bahkan untuk sekedar sarapan sekalipun enggan dilakukannya. Tangannya hanya menekan tombol remote televisi dan mencoba mencari program acara yang bisa menggali minat dan keingin-tahuannya akan segala hal. Akan tetapi yang terpampang hanyalah berita-berita hiburan tak bermakna tentang kiprah dan ulah artis-artis ibukota. Kisah Malin Kundang sang anak durhaka kembali nge-trend. Kiki Fatmala dan Jonathan Frizy kini menjadi sorotan utama dalam setiap tayangan infotainment yang telah menelantarkan ibu kandungnya. Sang ibu terlihat menangis terisak-isak sambil sesekali matanya melotot dan berkata dengan lantang  sambil meminta kepada anaknya untuk memberikan sedikit perhatian kepadanya, sementara sang anak kebingungan di hadapan insan pengejar berita tentang kasusnya ini. Ia hanya berujar dan memohon maaf semata. Di kasus lainnya sang ibu merasa terbuang dan anaknya tidak mengakui keberadaanya kini. Sementara itu, keluarga membantah berita tersebut, justeru sebaliknya bahwa ibunyalah yang telah menelantarkan anaknya dan sekarang meminta pengakuan kembali setelah anaknya berada pada puncak karir yang baik dan terkenal. Akh…..sedemikian peliknyakah kasus-kasus itu? Sejujurnya hanya diperlukan kebesaran hati dari masing-masing pihak untuk segera meng-introspeksi diri masing-masing, sehingga tidak segera terpuruk dalam ke-egois-an sikap dan ambisi untuk mengejar pengakuan atau limpahan materi kelak.

 

            Merasa bosan, matanya tak kuasa terpejam. Dibiarkanyalah tayangan tetap berputar. Dalam lelap tidurnya kini, mungkin dirinya semalam belum merasa cukup untuk  beristirahat setelah melakukan petualangan-petualangan seru melintasi hari.

 

            Hujan, angin dan petir masih menggema berkelakar. Suasana dingin semakin terasa. Mungkinkah hari ini secarah hari kemarin? Mungkinkah sang kaki melangkah pergi hari ini? Dalam lelap dan kesalnya, pikirannya tetap bertanya dan berharap. Semoga saja hari ini tidak penuh dengan derainya hujan, akan tetapi berubah seketika penuh cahaya.

 

            Benar saja. Harapannya kini kembali, semangatnya datang penuh menantang. Hujan telah menuntaskan deras air mata kesedihannya, berganti dengan senyuman cerah. Walaupun langit tampak masih ke-abu-an, mendung berawan tetap bertakhta menghilangkan warna biru langit yang megah. Sang kaki keluar diri, mengendarai mobil kecil sewaan, tak tahu harus kemana. Yang penting dirinya harus keluar dari sarang yang mengurungnya. Di dalam perjalanan yang hanya tersisa setengah hari itu, logika berpikirnya bekerja cepat, secepat langkah sang kaki ketika berjalan. Berputar-putar berkeliling selama dua jam, akhirnya diambilnyalah keputusan untuk membaca buku yang dibawanya untuk menemaninya selama berkeliling. Pantai Kuta menjadi pilihannya.

 

            Kuta Bay, with its long stretch of white sand and brilliant sunset, has attracted swarms of visitors since its rediscovery by surfers and sun worshippers in the 1970s. Memarkir kendaraan tepat di depan Hard Rock Café, segera dirinya melangkah menjejakkan kaki. Pasir putih terhampar, direbahkannyalah dirinya di atas hamparannya. Matanya awas manatap orang-orang di sekeliling yang memanjakan dirinya bermain ombak, entah itu berenang, surfing, atau sekedar membaca buku sambil menunggu matahari tenggelam di balik cakrawala. Sama seperti dirinya.

 

            Pengunjung lokal terlihat cukup banyak dibanding turis-turis bule, anak-anak kecil berlarian di kejar ombak yang merapat ke pantai. Para surfer menunggu datangnya ombak besar untuk segera menjejakkan kakinya di papan yang akan membawanya berkuasa di atasnya. Cukup seru melihat manusia berinteraksi dengan alam. Baru beberapa saat duduk menikmati, sang kaki terhenyak kaget, seorang penjaja menawarkan temporary tatoo padanya. Beberapa saat hanya terbuka obrolan singkat, sang kaki hanya bertanya-tanya saja, sementara dirinya enggan untuk menorehkan tato pada tubuhnya. Ucapan terima kasih terlontar sebagai bentuk penolakan dan penutup obrolan.

 

            Dipersiapkannyalah buku yang akan dibacanya, sambil mendengarkan musik penghantar. Jiwa-Jiwa Pemberontak karya pujangga dunia terkenal Kahlil Gibran dan musik pengiring dari CD Piano Love Songs yang berisikan 34 beautiful piano ballads by the original artists dan disambung dengan suara Alicia keys berikutnya yang turut menemani siang menjelang senja itu.

 

            Membaca Jiwa-Jiwa Pemberontak, memberi pencerahan pada kita tentang hakikat agama dan kekuasaan, cinta dan kehidupan. Ke-dunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, ekonomi maupun agama bahu-membahu men-dungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi para penguasa yang ingin berkuasa. Namun selalu saja masih ada jiwa-jiwa pemberontak; jiwa-jiwa merdeka, yang tidak pernah mau tunduk kepada tirani-atas nama apapun- dan diperbudak. Jiwa-Jiwa Pemberontak selalu mengikuti kata nurani yang jujur, indah dan penuh gejolak. "Seseorang bisa bebas tanpa kebesaran, tapi tidak seorangpun dapat besar tanpa kebebasan."

           

            Setelah 3 jam membaca dan mendengarkan musik, sang matahari tetap enggan untuk tenggelam membenamkan kuasanya. Tentu saja dirinya enggan, dikarenakan sang awan kelam dibiarkan menyelimutinya. Akhirnya sang kaki melangkah pergi untuk kembali ke pujaan hati yang telah dinanti. Agak sedikit berdebar dan galau sore ini, akan tetapi sang kaki tak perlu risau. Kegalauannya selama ini segera hilang seketika dengan senyum dan tatapan ramah serta dekapan malam yang dengan setia segera menemaninya. Terima kasih untuk hari ini yang telah terberi yang mempertemukan kembali dengan senyum dan tatapan ramah sang hari ini. Walau awal tak pasti dengan derainya, hingga kini berteman keramahan hari menanti, bahkan sampai terlelap dalam dekapan hangatnya malam……akh, mimpi indahkah dirinya? Tentu, dengan senyum sang  kaki tertidur pulas dalam dekapan malam yang kembali akan kelam. Sang kaki kembali pula bahagia hari ini. 

 

(Bersambung..........)


Posted at 07:48 pm by myluuvystory
Make a comment  

Monday, May 01, 2006
Sang Kaki Mengelilingi Hari (1)

"Sang Kaki Mengelilingi Hari"

(sebuah petualangan dan pengalaman yang terberi)

Bali, 1-8 Januari 2006

Oleh: Kornelius K Irwanto, M.Psi.

 

Chapter 1:

 

            Dengan sedikit rasa kegundah-resahannya, sepasang kaki kembali mencoba mengelilingi hari. Hari bukan sesuatu yang baru baginya, hari selalu bergayut dalam hati dan pikirannya. Hari telah menjadi bagian yang tak terasa dan tak terukur hingga sampai saatnya nanti. Kemarin, kini dan esok merupakan bagian hari yang telah terberi.

             

            Melepas tahun berganti, setelah sibuk dengan kepenatan, kesumpekan dan kegalauan hati, sang kaki menyepi menarik diri. Kembali mencoba merenung akan arti hidup selama ini. Apa arti mati kelak yang juga dicari. Atau sesekali bertanya apa arti cinta yang tak kunjung hinggap dalam hari dan hatinya. Tentang arti persahabatan dan pengkhianatan yang memang sama dan tiada bedanya. Mencerna segala kebaikan dan kejahatan sang kaki. Dan  sesekali kembali menghitung dosa-dosa yang telah terjamah dan terencana selama tahun berlalu. Sang kaki tepekur beku dan bisu dalam kesunyian di bagian hari.   

 

            Melewati tahun di pinggiran pantai dengan terpaan angin menyapa ramah namun penuh sakit membuatnya semakin lirih. Apakah kesendiriannya dapat memberi arti kelak untuk lebih kuat dan bertahan menjalani tahun-tahun mendatang? Bak pepohon nyiur di pinggiran pantai yang tetap berdiri teguh diterpa tiupan angin, atau kokohnya karang-karang lautan yang tetap berdiri anggun   dihempas ombak yang mengganas namun meranggas. Demikian sang kaki ingin berdiri tertegun mencari makna sejati alam yang diamati.

 

            Kegundah-resahannya teruji. Hal yang diinginkannya sejak lama untuk terbang seorang diri melintasi pulau kembali terusik. Hati dan pikirannya tidak memiliki sinkronasi yang sama. Beberapa saat baik perasaan dan logikanya kembali teruji. Berpuluh-puluh pertanyaan penuh logika, tidak dapat dijawab oleh sang hati. Demikian sebaliknya, bahwa ada perasaan ketakutan dan penasaran yang teramat, tidak dapat disentuh oleh akal sehat. Yah, memang! Ternyata logika dan perasaan tidak dapat dipersatukan, meski tampak sejalan beriringan. Akhirnya semua terabaikan…..sang kaki tetap melangkah pasti. Menjinjing tas ransel berbobot lebih kurang 15 kg dan seperangkat kamera yang memang telah dipersiapkannya dengan matang untuk bekal perjalanan mengelilingi hari di salah satu pulau pujaan hati.

 

            Duduk resah dan gundah berkendara, sang kaki meminta adinda sayang nan terabai untuk mengantar ke suatu tempat pemberhentian. Pergi tanpa pesan kepada orang-orang tercinta dan tersayang, sang kaki hanya meminta untuk dijemputnya kelak setelah mengelilingi hari-harinya. Dasar….sang kaki memang terbiasa dengan hal tersebut, sehingga orang-orang di sekelilingnya sangat memaklumi kebiasaan sang kaki.

           

            Roda besar melaju…..hanya beberapa orang terlihat di dalamnya duduk termangu. Sesekali kepala sang kaki menoleh ke kanan-kiri, melihat jalan raya yang cukup sepi dan lengang. Aneh terasa kota namun damai dalam sekejap, walau hanya sesaat saja. Sementara, semalam baru saja ada perhelatan besar pergantian tahun yang pasti di jalan yang sama, yang dilaluinya kini penuh sesak dengan orang-orang yang haus akan hiburan dan bunyi hangar-bingar terompet menggema di udara diiringi kilatan cahaya kembang api memancar  warna-warni. Meriah……..Menggema……Membahana…….namun kini sepi penuh arti. Mungkin orang-orang tersebut mulai tertidur lelap keletihan atau mengurung diri di dalam kamarnya sambil berpikir ancang-ancang untuk melintasi hari-hari ke depan. Entah penuh tantangan dan cobaan pasti untuk meraih kesuksesan dan kesenangan hidup semu. Yah, demikian manusia apalagi di Jakarta semua ada dan tersedia. Dapat dilakukan dengan segala cara asalkan berani saja.    

           

            Letih kepala sang kaki, tangannya mulai aktif membuka lembar-demi-lembar halaman buku besarnya. Kamus berjalan yang akan dengan setia menemaninya mengelilingi hari. Buku yang sarat akan informasi tersebut memberikan manfaat dan keteguh-bulatan hati sang kaki untuk  berkelana.

 

            Selama satu setengah jam melayang di atas awan malam, sang penguasa udara mendarat dengan sempurna di pulau tercinta. Pulau yang sama kini mungkin penuh dengan duka, karena kepicikan segelintir orang yang ingin memecah belah kesatuan dan keutuhan bangsa. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka! Mungkin mereka tampak kecewa, putus-asa dan tidak puas dengan  demokrasi negeri ini. Atau mereka sendiri mempertanyakan apa arti demokrasi yang memang entah apa artinya? Dengan daya ledak yang cukup dahsyat beberapa waktu lalu, cukup menyentak negeri bahkan dunia internasional yang dengan segera mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya tentang adanya sindikat teroris di negeri multi-culture ini. Yah, sesaat negeri ini menjadi gunjingan dunia dan seluruh mata tertuju serta bertanya-tanya mencari jawab yang tak terucap. Atau kadang memang penting juga kiranya agar dunia melihat exsistensi sebuah negeri dalam perspektif negatif.  Jadi tidak ada yang ditutup-tutupi kini.

 

            Biarlah……, sang sepasang kaki tetap teguh berdiri dengan pasti. Mungkinkah??

 

            Malam itu, di tahun yang masih ranum bulan awal, di tahun yang baru, di hari pertama yang segera berganti hari berikutnya,  sang kaki berjejak sendiri. Matanya menatap nanar, kerut dahinya bersusun, otaknya diperas untuk berputar yang diakhiri dengan senyum kepasrahan. Dalam hati: Adakah keresahan di dalamnya? Adakah jalan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teoritis yang ada dalam pikirannya selama ini? Atau hanya sekedar menguji teori-teori orang yang putus asa dalam kecewa, sehingga perlu menarik diri dari keramaian yang membuatnya penat? Hanya sang kaki yang mengetahui jawabnya. Selalu dan pasti…..serta dicari.

 

(Bersambung.........)


Posted at 01:51 pm by myluuvystory
Make a comment  

Sang Kaki Mengelilingi Hari (II)

"Sang Kaki Mengelilingi Hari"

(sebuah petualangan dan pengalaman yang terberi)

Bali, 1-8 Januari 2006

Oleh: Kornelius K Irwanto, M.Psi.

 

Chapter 2:

 

Day 1: Monday, January 2, 2006

            Udara dingin masih terasa hingga dalamnya menusuk tulang. Matahari tampak tidak bersahaja pagi itu. Dirinya membiarkan sang awan kelam menutupi dan menyelimuti warna ke-emas-annya. Demikian sang kaki, enggan untuk segera menapak dan berpijak di bumi. Lebih rela merebahkan raga yang terbalur selimut tanda bimbang dan ragu menyapa mentari pagi.

           

            Bagaimana mungkin 'kan terwujud angan sang kaki untuk mengelilingi hari? Segera terusik dari pertanyaan mimpi, bergegas dirinya mencelikkan mata, menarik nafas panjang dan membasuh tubuh dengan tirta penyejuk pagi. Air penyejuk menghilangkan semua kemalasan yang bergayut menggelantung, berbalik arah menjadi pemberi spirit mengelilingi hari.

           

            Ketika emas sang surya mulai muncul perlahan, menyentuh wajah dan tubuh pemberi kehangatan, tersusunlah rencana pasti dalam rangka berkelana mengejar hari. Lembar-demi-lembar kertas yang sudah dipersiapkan dengan tanda check-mark  , buku tebal perjalanan yang setia menemani berkelana, selembar peta pulau tercinta yang hanya memuat nama-nama jalan menu utama serta seperangkat peralatan tempur perjalanan dalam ransel hijau tersayang dipersiapkan dengan rapi oleh dirinya, yang selalu mengenakan kostum kebanggaan. Hanya berbalut t'shirt, celana pendek dan beralaskan sandal jepit, sang kaki mulai megelilingi hari.

 

            Hari ini, sang kaki berinteraksi. Jika biasanya sang kaki senang berucap dan ujar karena profesi yang menuntutnya demikian, kali ini berbeda dengan hari-hari yang lalu dan kemarin. Dirinya takjub. Berinteraksi tanpa berkomunikasi. Hanya kicauan merdu yang keluar dari mulutnya terdengar. Irama indah yang mungkin tersusun secara tak teratur mencoba mencipta nada.  Sesekali cakar menyentuh kulitnya. Kuku tajamnya terasa menusuk dan sedikit meninggalkan bukti dan nyeri bak duri yang ada dalam hati. Bahkan tanpa sungkan bertengger di pundak atau kepala sekali pun. Tanpa rasa hormat bahkan berani meninggalkan kotoran dan bau tak hingga sedapnya. Untunglah sang kaki mampu menahannya sesaat.

 

            Sekelompok burung-burung pelikan danau berebut ikan sebagai umpan makanan. Burung yang terlihat besar dengan paruhnya yang kokoh  dan sayapnya yang menjuntai, ternyata mengelabui mata. Berdasarkan informasi sekitar, ternyata hewan ini hanya memiliki bobot yang ringan saja. Kamuflase semata, yah mungkin sama dan dapat di-analogikan dengan peribahasa: "tong kosong nyaring bunyinya." Sama halnya mungkin dengan manusia, yang mungkin tampaknya kekar ternyata otaknya kopong…..atau seseorang yang berbalur kecantikan di luar, ternyata perilakunya tidak selaras dengan kecantikannya, arogan dan urakan.  Dalam kawanan tersebut, sang kaki terhenyak sontak, ada seekor pelikan albino yang berbeda dengan kawanannya. Pelikan albino itu tampak tersisih…tersingkir…dan terlihat selalu menyendiri, tanpa ada yang menemani. Dirinya tak mampu bersaing dengan kawanan besar lainnya untuk memperebutkan umpan sarapan paginya. Ia tak mampu dan tak kuasa dengan kesendiriannya. Hanya hilir mudik ke kanan dan ke kiri saja, sesekali mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuap ikan umpan. Sang kaki iba bersimpati dan berempati saat melihat kesendirian albino. Ia merefleksi pada dirinya yang sendiri kini. Merasakan hampa dan tak kuasa tanpa daya untuk mengalahkan sekelompok pelikan lainnya yang rakus. Akh….albino mampu bertahan meski terseok dan terpuruk, demikian pula harusnya sang kaki.

 

            Lanjut pula sang kaki tersandar memandang luasnya persawahan terbentang…..cukup lama matanya menerawang dan saat belum takjub dengan pemandangan hijau di hadapan, tiba-tiba terdengar sayu kepak sayap membentang, paruh tajam menghujam dan cakar runcing menggenggam. Terlihat jelas penguasa kerajaan unggas mempertunjukkan kepiawaiannya berinteraksi. Sang kaki memberanikan diri membawa baki, mencoba menghadang sang unggas untuk mencengkeram umpan buruan. Sang kaki tidak tegak berdiri, sesekali merunduk pertanda ragu. Bahkan tak kuasa mata terpejam pertanda resah. Tanyanya: mungkinkah sang unggas yang terbang  melesat di udara akan melesat menggenggam umpan? Ternyata sang unggas hebat. Dengan cengeramannya yang kuat dan terbang cukup akurat, dirinya mampu mencabik umpan dan melahapnya.

 

            Kembali, sang kaki belajar dari pengalaman unik dan menarik ini. Bahwasannya dirinya pun mampu melakukan segala sesuatu asalkan ia mengetahui dan memiliki kekuatan yang ada di dalam diri, serta jangan ragu untuk bertindak. Jika sesuatu yang di depan mata sudah tampak, sebaiknya segera saja untuk meraihnya tanpa sungkan asal dengan cara yang wajar dan halal.

           

            Dirinya juga belajar tentang kesetiaan. Kesetiaan yang sulit dicari saat ini. Kesetiaan yang mungkin sangat mahal harganya kini. Sang kaki belajar dari tingkah laku seekor burung hornbill betina  yang tak akan mau, menolak serta enggan untuk bertengger di atas seorang perempuan sekalipun. Dalam hidupnya ia hanya mau pada pasangan hidupnya saja.   

 

            Demikian uniknya kehidupan unggas di Bali Bird Park. This bird park boasts over 1000 birds, including rare cendrawasih (birds of paradise), and highly endangered Bali starlings. There are also Komodo dragons, and a fine collection of tropical plants among two hectares of landscaped gardens.

 

            Kini sang kaki merasa perih di diri. Matahari mulai meninggi hingga tepat berada di atas kepalanya. Pantas saja perih, perutnya pun sudah pasti melirih. Tanda minta diisi. Menujulah dirinya ke warung Jero, hanya sekedar mencicipi hidangan  yang tersaji. Cukup puas menyantap nasi dan berbagai lauk pauk tertata. Dirinya tak kuasa untuk segera memasukan makanan terambil sendok ke dalam mulutnya, hingga terlihat kosong piringnya kini. Dengan dorongan segelas  ice tea untuk melegakan tenggorokan dan menyejukkan dirinya, kini sang kaki siap kembali beraktifitas menyusur hari.

 

            Kendaraan roda dua automatic kembali melaju, dan segera menuju ke Goa Gajah. The ancient hermitage of Goa Gajah (Elephant Cave) near Bedulu is one of Bali's most intriguing archeological sites, comprising a man-made grotto, elaborate stone carving and Buddhist stupas.

 

            Dengan berlilitkan kain sarung keharusan, sang kaki menuruni anak-anak tangga yang tak cukup curam. Melihat sekeliling dan berdialog dengan penduduk lokal, sambil bertanya apakah dirinya dapat masuk ke dalam two squares bathing pools with waterspouts held by six female figures. Setelah mendapat restu, lalu sang kaki membasuh wajah dengan air yang berasal dari salah satu pancuran tersebut. Segar terasa…..yang konon katanya air tersebut dapat membuat awet muda dan enteng jodoh. Amin…. dan semoga saja terwujud. Yah, superstitious rakyat sekitar, bukan hanya di negeri ini saja terjadi, mungkin bahkan sampai ujung belahan dunia lain pun ada yang meyakininya. Legenda memang akan semakin melegenda, demikian halnya mitos…semodern dan semaju apapun jaman, tetap ada yang percaya dan menganut keparcayaan yang ada secara turun temurun. Deminkianlah memang adanya…..

 

            Terlihat jelas patung-patung  di sekeliling. Lingga yang merupakan simbol Dewa Siwa, female counter part of Yoni, kepala gajah Dewa Ganesha dan patung Hariti yang di kelilingi anak-anak. Mengenai Hariti, awalnya dipercaya sebagai penjelmaan makhluk halus yang jahat dan kerap kali melahap anak-anak,  akan tetapi dalam perkembangannya mendapatkan pengaruh Budha menjadi pelindung anak-anak dan simbol Dewi kesuburan.

 

            Menuruni tangga dan melintasi Sungai Petanu, hingga berjalan di atas pematang sawah, kembali sang kaki terusik diri. Di petiknya sebulir padi yang telah masak. Kembali dirinya teringat tentang filosofi padi. "Semakin berisi padi, dirinya akan semakin merunduk." Berharap sang kaki memiliki prinsip seperti Padi nantinya kelak.

 

            Kini kembali sang kaki beranjak diri. Hati dan pikirannya mulai bekerja nakal. Sang kaki ingin merasakan sendiri mengendarai mesin beroda dua. Kebiasaannya di Jakarta, sang kaki hanya menjadi penumpang yang setia duduk menggonceng di belakang kendaraan roda dua ayahanda, adinda, sepupu, teman dan sahabat ataupun tukang ojek yang disewanya. Dirinya pernah mencoba sesekali berkendara. Alhasil, hampir saja dirinya terperosok ke dalam selokan yang cukup dalam. Untung saja, keseimbangan masih berpihak pada dirinya. Sang kaki terhindar dari petaka. Kini, dengan keyakinan yang ragu, sang kaki cepat sekali belajar dari pengalamannya tetap memberanikan diri untuk mengasah keterampilannya. Mencoba hal yang baru di tempat yang baru pula baginya.

 

            Kakinya tampak gundah untuk diangkatnya, sesekali kendaraan roda dua menyerong ke kanan dan kiri. Beberapa saat kemudian, sudah mampu sang kaki mengendalikannya. Dipacunya menuju kawasan Tampaksiring. Di sini terdapat tempat kediaman Soekarno, Istana Negara Tampak Siring is an unspectacular, single storey structure, designed by Soekarno himself and built in 1954 on the site of a Dutch rest house.  Sayangnya sang kaki tak dapat menapak masuk ke dalam kediaman orator ternama dunia yang cukup terkenal pada jamannya dulu itu. Hal tersebut memang dilarang kini, entah karena alasan apa, yang pasti karena alasan yang tak jelas dan tak pasti. Atau hanya alasan keselamatan semata. Entahlah, sang kaki hanya mereka-reka saja.

 

            Kekecewaannya terbayar. Sayup-sayup terdengar bunyi-bunyian musik negeri yang dinamis. Iring-iringan barisan berjejer membawa berbagai jenis usung-usungan di kepala. Para wanita mengenakan busana adat dengan eloknya, demikian kaum pria yang tampak bersahaja dengan lilit di kepala, tak kalah halnya dengan anak-anak yang sesekali tetap bermain karena jiwanya demikian mencoba tetap mengikuti odalan (upacara adat) setempat. Mereka beriringan rapi dan khusuk memasuki dan mengitari pura.

 

            Berlokasi di Tampaksiring, the rejuvenating springs of Tirta Empul have been a holy bathing place since the 10th century. Masyarakat penganut sekitar mempercayai bahwasanya mata air tersebut memiliki kekuatan magis, sehingga tampak terlihat orang-orang baik itu pria-wanita, besar-kecil, maupun tua-muda  terlihat masuk ke dalam kolam yang berisi air magis itu. Sesungguhnya, siapa pun yang ingin membasuh diri di kolam dapat dengan mudah melakukannya. Sang kaki hanya mengambil secupak air dalam genggaman tangannya dan membiarkannya lenyap terjatuh kembali ke kolam. Dingin benar terasa di tangan sang kaki.

 

            Perjalanan kembali berlanjut. Berkeliling kelana di sekitar Ubud dan segera berlanjut menuju kawasan pantai Sanur, yang dikenal dengan kawasan pantai matahari terbit. Sang kaki mencoba ber-canoeing. Menyapu ombak ke kanan dan kiri dan memandang hamparan laut luas di hadapan. Sebatas cakrawala terpampang dipermukaan. Cukup satu setengah jam saja berada di atas permukaan laut yang tenang dan teduh, membuat diri dan hatinya terhibur, hingga tak kuasa hari ini cepat sekali berlalu. Serasa ditipu sang waktu. Sore itu langit terlihat sangat cerah ceria, akan tetapi waktu telah menunjukkan waktu setengah tujuh malam. Bergegas sang kaki hengkang dan berlari dari lautan. Berbilas tergesa, dan langsung menuju tempat hidangan laut terhadang. Nama yang cukup unik, entah ada artinya atau tidak Wapo KKN. Tempat makanan sea-food dan Chinese Food di sekitar kawasan Jl. Bay Pass Ngurah Rai No. 48, yang konon kata orang tempat makan malam ini jika pagi hingga sore hari berfungsi sebagai bengkel mobil. Unik dan menarik...semenarik udang saus tiram dan sambal mentah dengan lahap disantapnya.

 

            Setelah perut penuh terisi, tentunya dapat menghantarkan sang kaki terlelap di pembaringan. Dengan sesekali bermimpi dan menyusun rencana, akan kemana esok dirinya berkuasa? Cuma sang kaki dan alam pikirannya yang tahu. Penuh harap, semoga alam tetap bersahaja dan bersahabat dengannya. Dengan segera terlelap kedua mata.

 

(Bersambung..............)

 

 


Posted at 11:54 am by myluuvystory
Make a comment  

Monday, November 28, 2005
Seorang Dara Bertanya!

Seorang Dara Bertanya!!

Seorang dara menangis di hadapanku senja ini
Ia bertanya akan arti sebuah keberterus-terangan
Dari sebuah kebisuanku selama ini kepadanya

Aku jelaskan tentang arti sebuah perasaan yang terpendam selama ini hingga 2 bulan terakhir
Aku lontarkan rasa kekecewaanku.....
Aku haturkan rasa kebingunganku.....
Hingga hilang akal sehatku yang selama ini dibutakan oleh cinta
Cinta yang membawa luka.....
Entah kapan bahagia?
Cinta persahabatan yang pupus karena pengkhianatan
Kini aku terluka.....

Kembali sang dara bertanya tentang kemarahan.....

Kuungkapkan:
Kemarahan hanya penilaian semu orang lain akan keberadaan perasaanku saat ini
Aku tidak bersandiwara.....
Aku tidak suka berkaca pada perasaanku.....
Yang aku rasakan akan tampak nyata dari diriku
Demikian tuturku.....

Kemudian sang dara berucap tentang maaf.....

Kuucapkan:
Entah apa yang harus dimaafkan.....
Kadang maaf hanya kamuflase dan pemanis belaka
Maaf hanya kata-kata ampuh yang terucap di atas tingkah laku dan perbuatan kita yang urakan
Hilang sudah makna hakiki maaf ditelan zaman.....

Waktu yang dapat menyembuhkan lukaku
Untuk menguji seberapa besar arti tetesan air mata sang dara
Aku kembali belajar kehilangan,
Tapi aku tidak merasa kehilangan sebesar aku kehilangan rasa ketidak-percayaan.....


                                                                  Jakarta, 24 November 2005
                                                                        Pkl. 20.28 WIB

Posted at 06:32 pm by myluuvystory
Comment (1)  

Wednesday, November 23, 2005
SEMALAM II .....


SEMALAM.....

Semalam......
Kembali ku datang.....
Menghampiri sang pujaan hati tersayang.
Segala rasa kegelisahan, keresahan dan kekecewaan tumpah dihadapannya

Membuat lidahku tidak terasa kelu.....berbicara!
Membuat hatiku berbungan tanpa ragu.....ceria!
Oh, sungguh malam luar biasa
Malam penuh pesan

Suatu kebetulan semata
Saat alunan musik pengiring pujaan melantun
Sajian malam pemanis lidah tersantap tanpa bekas
Hingga sapa malaikat kecil terujar tanpa sengaja
Yang tercipta beberapa waktu sebelumku ada
Dirinya menyebutku demikian.....Malaikat kecil!

Malaikat kecil......
Yang kapan saja masuk melalui celah-celah daun pintu jendela
untuk memberikan sedikit ungkapan kesejukan kemesraan dalam dirinya
Sekelumit syair tentang malaikat kecil terlontar
Kebetulan yang tak terduga! Kembali ku berujar.....

Semalam.....
Kembali ku bahagia
Kembali ku jatuh cinta tak berdaya
Asaku kembali nyata
Asa yang akan kembali hampa kelak

Semalam.....
Kembali kudapatkan peluk, cinta dan kedamaian
Seperti semalam.....
Selalu.....
Kunanti.....
Tanpa henti dan tak pasti.....
                                                                  Jakarta, 23 November 2005
                                                                       Pkl. 10.54 WIB

Posted at 07:54 pm by myluuvystory
Comment (1)  

Ku terdiam dan kau tersentak!

Ku terdiam dan kau tersentak!

Ku terdiam membisu!
Kau tersentak bungkam!
Di dalam kamar ini....semua terjadi....
Peluk, cinta dan kedamaian.....
Kebohongan, kelicikan, pengkhianatan.....
Gundah dan ragu diriku kini

Kembali ku terdiam!
Dan.....kau tersentak bungkam!
Masih adakah kejujuran di antara kita?
Masih perlukah hari-hari kita lalui bersama?
Kembali di kamar ini.....
Kami menanti kesucian hati....
Sebuah kejujuran!
Sebuah penantian!
Sebuah keresahan!
Sebuah rasa kegelisahan!
Di dalam penuh pengharapan.....

Di kamar ini, aku terdiam membisu dan kau lagi-lagi tersentak bungkam!
Hanya kata maaf terucap untuk meluluhkan kebisuan dan keterdiaman kami
Maaf yang terucap dalam lara dan kepalsuan!
Semu.....

                                                        Jakarta, 22 November 2005
                                                        pkl.  17.00 WIB                                                   

Posted at 06:57 pm by myluuvystory
Make a comment  

Monday, November 21, 2005
Semalam.....


SEMALAM....

Semalam aku menunggu.....
tapi lidahku terasa kelu sehingga tak mampu berkata-kata.....
Membisu!

Hatiku biru kelabu sehingga tak sanggup merasakan kemanjaan darimu.....
Pilu!

Kebisuan dan kepiluan.....
Pikirku!

kini bergayut dalam penuh harap akan pelukan, cinta dan kedamaian dari dirimu.....
Menantimu.....
Selalu.....
Semalam.....

                                          Jakarta, 22 November 2005
                                                Pkl. 08.28 WIB


Posted at 05:56 pm by myluuvystory
Make a comment  

Sunday, November 20, 2005
Pengandaran

" Malam semakin larut membuat laju roda tak berhenti berlari
Menghampiri pelipur hati yang memang indah terberi
Kembali langkah kaki berjejak, jinjit berlari, kekar mengayuh
Tanpa kuasa peluh dan penat lebur dalam debur ombak memecah.

Walau tirta masih terlihat lara 'kan rintihan tangis hujan semalam
Namun tetap menghibur oleh tetesan air dan kekarnya karang
Huh, pesona alam luar biasa menyatukan kami dalam rasa terlena bahagia tanpa lara
Syukur di hadapan sejati, karena kembali diberi nikmat tak terberi dalam hari"

                                                               Jakarta, 20 November 2005
                                                                                       pkl. 15.18 WIB

Posted at 10:19 pm by myluuvystory
Make a comment  

Next Page